Namo Buddhaya

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa

Yo Dhammam desesi adikalyanam majjhekalyanam pariyosanakalyanam ti
Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, indah pada akhirnya

Sunday, September 5, 2010

Jangan Biarkan Rantai Kasih ini Berhenti Padamu

Pada suatu hari, seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa wanita tersebut sedang membutuhkan pertolongan, sehingga ia menghentikan mobilnya di depan mobil Benz wanita itu dan keluar menghampirinya. Mobil Pontiac-nya masih menyala ketika pria itu mendekati wanita tersebut.

Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorang pun yang berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan tak baik, ia kelihatan miskin dan kelaparan.

Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri di sana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu. Ketakutan itu membuatnya tambah kedinginan. Pria itu berkata, "Saya di sini untuk menolong Anda, Nyonya. Masuk saja ke dalam mobil supaya Anda merasa hangat. Ngomong-ngomong, nama saya Bryan Anderson."

Sebenarnya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut usia seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan menyusup ke bawah bagian sedan, mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu, beberapa kali jari-jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu. Namun akibatnya, ia jadi kotor dan tangannya terluka.

Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan mencoba mengobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini. Ia sangat berutang budi atas pertolongan pria itu.

Bryan hanya tersenyum ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu. Sang nyonya menanyakan berapa yang harus ia bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapapun jumlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya itu. Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi seandainya pria itu tak menolongnya.

Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan. Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu, dan ia tidak pernah berbuat hal sebaliknya.

Pria itu mengatakan kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya ia melihat seseorang yang memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang itu, dan Bryan menambahkan, "Dan ingatlah kepada saya."

Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu dingin dan membuat orang depresi, namun pria itu merasa nyaman ketika ia pulang ke rumah, menembus kegelapan senja.

Beberapa kilometer dari tempat itu, sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil dan menghangatkan badan sebelum pulang ke rumah. Restoran itu kelihatan agak kotor. Di luar kafe itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan di sekitar tempat itu sangat asing baginya.

Seorang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk mengelap rambut wanita itu yang basah. Pelayan itu tersenyum manis meskipun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari. Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hampir delapan bulan, namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya mempengaruhi sikap pelayanannya kepada para pelanggan restoran. Wanita lanjut usia itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya, dan wanita tersebut teringat pada Bryan.

Setelah wanita itu menghabiskan makanannya, ia membayar dengan uang kertas $100,-. Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk mengambil uang kembalian untuk wanita itu. Ketika kembali ke mejanya, sayang sekali wanita itu sudah pergi. Pelayan itu bingung kemana perginya wanita itu, kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di meja itu.

Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita itu, "Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya. Saya juga pernah ditolong orang. Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama seperti yang saya lakukan. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah yang harus engkau lakukan, Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu." Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $100,- lagi.

Masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres, ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan kelahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup.

Ia tahu betapa suaminya khawatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, ia memberikan ciuman lembut dan berbisik dengan lembut dan pelan, "Segalanya akan beres. Aku menyayangimu, Bryan Anderson."

....

Salah satu dari 10 pandangan salah dalam Dhamma adalah tidak mempercayai bahwa berbuat kebaikan akan mendapatkan kebaikan. Dalam melakukan kebaikan, janganlah berharap akan segera mendapatkan balasan atas perbuatan baik kita karena kita akan kecewa, tetapi kita berbuat baik karena didorong oleh kebahagiaan yang kita dapat dari memberi kebaikan tersebut. Contoh berbuat kebaikan tanpa pamrih adalah orang tua terhadap anaknya. Orang tua menyayangi anaknya tidak boleh berpikiran, "Karena dia anakku, maka aku menyayanginya," tetapi  dalam Dhamma mereka harus berpikiran bahwa, "Mereka adalah makhluk yang lemah dan tak berdaya serta butuh kasih sayang. Oleh karena itulah, aku menyayanginya." Dengan berpikiran seperti itu, maka mereka dapat memberikan kasih sayang kepada semua anak dan tak terbatas (universal). Hal ini membutuhkan latihan dalam hidup kita sehari-hari. Apabila kita bisa berpikir seperti itu, maka kita tidak akan mengalami penderitaan yang sangat luar biasa kalau nanti anak kita tidak sesuai dengan harapan atau keinginan kita (melakukan hal negatif terhadap orang tuanya).

Dalam Dhamma, kebahagiaan tahap awal adalah kebahagiaan karena "mendapat" karena setiap orang pasti bahagia kalau mendapatkan sesuatu. Bahkan seekor kucing pun akan bahagia kalau diberi ikan. Tetapi apakah kita akan bahagia kalau kita memberikan sesuatu kepada orang lain? Itulah kebahagiaan tahap berikutnya, kebahagiaan yang didapat karena memberi (berbahagia atas kebahagiaan orang lain). Dengan mempraktekkan dan memahami Dhamma, maka kita bisa merasakan kebahagiaan karena "memberi".

Catatan: Segala sesuatu harus dilakukan dengan kebijaksanaan. Bukan menerima teori itu apa adanya, lalu melaksanakannya tanpa pertimbangan.

Semoga cerita ini bermanfaat dan bisa membangkitkan semangat kita untuk tetap konsisten terhadap perbuatan baik yang telah kita lakukan.

Sabbe sattã bhavantu sukhitattã. Semoga semua makhluk berbahagia